Sabtu, 15 Agustus 2015

Cerpen: Hubungan Kau dan Aku Part 2

Heeyy guys. Ketemu lagi nih. Hmm malem ini malem minggu. Pada kemana nih? Aku sih di rumah sama laptop :v

Oh iya aku mau ngucapin makasih banget nih buat yang udah nyempetin mampir ke blog gaje ini. Makasih juga buat yang udah mau baca-baca cerpen garingku ini :D Maaf ya kalo ngga begitu bagus. Lagi trainee :v Tapi aku bakalan berusaha unntuk menjadi lebih baik lagi ^^

Oke, kali ini aku mau post cerpen lanjutan kemaren. Yaps "Hubungan Kau dan Aku".

Bisa dibilang cerpen ini sih kek "Friendzone" yah. "Cuma temen ngga lebih".

Oke deh langsung aja.
Chek it out!

***
Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku memutuskan berangkat ke sekolah sendiri. Aku tak bersama Ray, karena aku masih marah dengannya. Aku masih marah tentang tadi malam. Apa maksudnya memuji cewek lain di hadapanku, sedangkan aku sedang jatuh cinta padanya.
Aku pun keluar dari kamar dan turun ke bawah. Tak sarapan pagi, karena sedang tak mood untuk sarapan. Akupun berlari menuju pagar dan membukanya. Ternyata Ray sudah menunggu diluar.
“Lama! Udah yuk ah berangkat! Telat nih!” katanya dengan muka bete.
“Gue mau berangkat sendiri.” kataku ketus
“Lah kenapa? Buruan naik!” katanya sedikit membentak.
“Lo ngga denger? Gue mau berangkat sendiri. Udah kalo lo mau berangkat, yaudah sana!”kataku sedikit meninggikan intonasi.
“Lo kenapa sih? Trus lo mau naik apa ke sekolah?”tanyanya
“Jalan kaki.” kataku singkat.
“Yaudah kalo gitu, gue temenin lo jalan kaki juga.” kata nya beranjak dari motornya.
“Motor lo?” tanyaku.
“Gue tinggal di rumah gue. Tungguin ya gue masukin motor gue dulu.” katanya sambil mendorong motornya.
“Niatnya pengen sendiri malah ditemenin. Yang ngebuat gue suka sama lo, karena lo perhatian Ray.” kataku sambil melihatnya.
“Yuuk berangkat!” ajaknya yang sudah memasukkan motornya ke dalam rumah.

 Dengan terpaksa aku mengiyakan ajakan Ray. Selama perjalan menuju sekolah, kita hanya diam. Tak ada sepatah katapun dariku dan Ray. Tak lama kemudian dia membuka pembicaraan.
“Lo kenapa ngga mau berangkat bareng gue? Gue ada salah sama lo? Kalo gue ada salah sama lo gue minta maaf ya, walaupun gue ngga tau salah gue apa.” kata Ray
“Ngga papa.” jawabku singkat.
“Duh, Tik. Lo kenapa sih?” tanyanya sekali lagi.
“Gue bilang gue ngga papa. Udah deh lo diem aja.” kataku ketus

Beberapa menit kemudian kita sampai di sekolah. Jarak rumah kita dengan sekolah tak begitu jauh. Aku pun berjalan menuju ruang kelas, sedangkan Ray berjalan menuju kantin.
Setiba di kelas, Shanju teman sekelasku dan juga teman sebangku ku yang mempunyai nama lengkap Shania Junianatha yang disingkat Shanju memanggilku. Aku pun segera kesana.
“Ada apa Nju?” tanyaku.
“Bau-baunya sih entar ada anak baru di kelas kita.” kata Shanju.
“Oh ya? Siapa?” tanyaku lagi.
“Ngga tau. Gue tadi dapet info dari anak-anak. Kayaknya sih fix ya.”kata Shanju  meyakinkan.
“Yaudah ntar kan juga tau siapa.” kataku tak bersemangat.
“Tik, lo kenapa? Kok muka lo kusut gitu?” tanyanya dengan mengerutkan dahi.
“Ngga papa kok.” kataku sambil sedikit tersenyum.
“Soal Ray kah?” tanya Shanju.
Shanju memang sudah tau kalau aku suka sama Ray. Dia adalah teman curhatku. Shanju itu teman baik juga sahabat terbaik selain Ray. Dia selalu menyimpan rahasiaku ketika aku curhat padanya. Itulah alasannya mengapa aku tak khawatir jika aku curhat padanya. Selain menjaga, dia juga selalu memberikan saran padaku. Walau hanya kenal satu tahun lebih, aku sudah merasa nyaman jika aku curhat padanya. Karena, aku melihat dari raut wajahnya dia adalah orang yang bisa memegang janji.
“Ya gitu deh.” kataku singkat.
“Cerita kali, Tik.” katanya.
“Ntar deh kalo pas istirahat.” jawabku.

Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi. Semua siswa siswi segera masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Hari ini adalah pelajaran Bahasa Inggris. Pak Guru pun masuk bersama seorang murid perempuan. Mungkin itu anak baru yang diceritakan Shanju tadi.
“Selamat Pagi anak-anak.” sapa Pak Guru.
“Pagi, Pak.” jawab anak-anak serempak.
“Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan, perkenalkan diri kamu.” kata pak Guru pada murid itu.
“Halo teman-teman. Perkenalkan namaku Gabriela Margaret Warouw. Bisa dipanggil Gaby. Aku dari Depok. Aku pindah kesini, karena Papaku pindah kerja disini. Salam kenal semua. Terimakasih.” katanya.
“Tunggu. Siapa? Gaby? Gabriela Margaret Warouw? Yang diceritain Ray kemarin malem? Ha? Gue sekelas sama dia? Oh meen.” kataku dalam hati.
“Baiklah anak-anak ada pertanyaan?” tanya pak Guru.
*Murid-murid terdiam*
“Tidak ada? Oke baiklah kamu bisa duduk di bangku yang kosong.” kata pak Guru.
“Terimakasih,Pak.” kata murid baru itu.
Pelajaran pun dimulai. Biasanya jika ada pelajaran ini aku selalu semangat, karena pelajaran ini adalah pelajaran favoritku. Aku selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Tetapi, hari ini tak sesemangat seperti biasanya. Ya, mungkin karena masih bete dengan Ray dan mungkin sekarang ada Gaby disini.
Selama pelajaran aku hanya terdiam dan termenung. Seperti tak ada semangat. Cinta memang membuat orang seperti orang bodoh. Biasanya, jika orang yang sedang jatuh cinta itu mempunyai semangat untuk melakukan segala kegiatan. Tetapi, beda denganku. Ya, karena aku sudah tau jika orang yang aku suka malah suka dengan orang lain. Sakitnya itu disini.
Bel istirahat berbuyi. Aku pun keluar dari ruang kelas bersama Shanju. Aku dan Shanju pergi menuju kantin. Selama perjalanan, kita bertemu dengan Ray.
“Mau kemana,Tik?” tanyanya.
“Kantin.” jawabku singkat.
“Gue ikut ya.” katanya.
“Ngga usah.” jawabku singkat lagi.
Aku segera meninggalkan Ray dan pergi menuju kantin. Sebenernya aku tak enak hati memperlakukannya seperti ini. Sebenarnya dia tak salah. Dia juga tak tau apa-apa.
Sesampai di kantin, aku dan Shanju memesan makanan dan minuman. Kita duduk bersebelahan. Setelah itu, aku menceritakan semuanya dari awal pada Shanju.
“Oh, jadi si Ray suka sama cewek lain yang namanya Gaby? Jangan-jangan anak baru itu.” kata Shanju.
“That’s Right. Tebakan lo bener, Nju. Orang yang disukain sama Ray itu Gaby. Anak baru itu. Temen sekelas kita sekarang.” kataku.
“Waah! Gawat kalo gini. Mereka kalo ketemu, bisa makin deket.” kata Shanju sambil mengambil sendok dan garpu.
“Pasti ketemu lah! Kelas kita kan tetanggaan sama kelas Ray.” kataku sambil meminum jus alpukat.
“Tapi ya, Tik. Kalo dipikir-pikir mending lo ikhlasin aja si Ray. Secara dia kan udah suka sama tuh cewek. Dan cewek itu kayaknya juga suka sama Ray. Yang namanya cinta itu ngga bisa dipaksain,Tik. Kalo lo suka sama cowok, sedangkan cowok itu suka sama cewek lain dan cewek lain itu juga suka sama cowok yang lo suka. Intinya mereka saling suka lah. Lo ngga bisa maksain cowok itu biar suka sama lo. Percuma.” kata Shanju menjelaskan.
“Tapi, Nju gue udah terlanjur cinta.” kataku.
“Lo ngga boleh egois, Tik. Cinta itu datangnya dari hati. Bukan dari mata dan pikiran. Lo harus ikhlas, Tik. Cowok di dunia ini ngga cuman dia. Masih banyak yang lebih baik dari dia.
“Gitu ya. Jadi, gue harus ikhlasin dia?” tanyaku pada Shanju.
“Iya. Lebih baik dicintai kan daripada mencintai. Bisa aja ada seseorang yang suka sama lo tanpa lo sadari.” kata Shanju.
“Siapa?” tanyaku.
“Ya gue ngga tau. Nih, gue kasih perumpamaan. Semisal, lo pergi ke Stasiun untuk pergi ke suatu tempat. Stasiun itu ada 2 kereta misalnya. Lo pengen pergi naik kereta yang lo suka. Lo pengen yang berhenti di Stasiun itu kereta yang lo suka. Beberapa menit kemudian, kereta yang lo suka dateng. Tapi, kereta itu ngga berhenti di Stasiun lo. Dia malah berhenti di Stasiun selanjutnya, di Stasiun orang lain. Nah beberapa menit kemudian, kereta satunya dateng dan berhenti di Stasiun lo. Dia berhenti selama beberapa jam. Tapi, lo ngga mau naik kereta itu. Lo tetep kekeh buat naik kereta yang lo suka. Lo rela nungguin kereta yang lo suka. Lalu, kereta lain itu pun berangkat lagi ke Stasiun orang lain. Nah, lo masih nungguin kereta yang lo suka. Tapi, kereta itu ngga dateng. Dan lo nyesel kenapa ngga naik kereta lain itu. Jadi, intinya lo jangan ngarepin yang ngga pasti. Lo jangan diem di satu sisi doang. Lo jangan nungguin orang yang belum tentu nungguin lo. Ngapain lo cinta dan sayang sama dia yang belum tentu cinta dan sayang sama lo. Lo harus buka hati lo buat orang lain. Jangan sampe gara-gara lo kelamaan nungguin dia, lo jadi kehilangan seseorang yang cinta dan sayang tulus sama lo.” kata Shanju menjelaskan panjang lebar.
“Iya. Lo bener, Nju. Gue ngga boleh egois. Gue harus ikhlas. Gue juga ngga boleh diem di satu sisi doang. Lebih baik dicintai daripada mencintai. Oke, gue ngerti sekarang. Thanks banget ya, Nju. Lo emang best friend banget. Gue sekarang sadar, kalo cinta itu ngga bisa dipaksain. Sekali lagi, makasih banget ya. Lo udah mau dengerin curhatan gue dan ngasih saran ke gue.” kataku sambil memeluk Shanju.
“Iya sama-sama. Itulah tugas seorang sahabat. Selalu ada saat dibutuhin.”katanya sambil  menepuk pundakku.
***
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Ray untuk meminta maaf tentang kejadian  kemarin di sekolah. Sesampai di rumahnya, aku memencet bel yang berada di dekat pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Ternyata Ray yang membuka pintu.
“Eh, Atika. Ada apa?”  tanyanya.
“Hmmm... Gue.. gue.. mau...ngomong sesuatu sama lo.” kataku sedikit terbata-bata.
“Ngomong apa? Hmm masuk dulu yuk.” ajaknya.
“Eh, ngga usah disini aja.” kataku
“Yaudah kalo gitu duduk disini aja.” katanya.
“Jadi, lo mau ngomong apa?” tanyanya.
“Gue minta maaf soal kejadian kemarin di sekolah. Ngga seharusnya gue bersikap gitu sama lo. Maafin gue ya, Ray.” kataku sambil mengulurkan tangan pada Rasya.
“Haha. Santai aja keles. Hmm tapi by he way, lo kemarin marah-marah ngga jelas itu kenapa? Lagi PMS?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
“I..iya gue lagi PMS. Biasa lah cewek lagi PMS bawaannya pengen marah mulu.” kataku dengan senyum palsu.
“Yaudah deh syukur kalo gitu.” katanya sambil tersenyum lega.
“Eh, Tik. Gue mau kasih tau lo sesuatu.” katanya
“Soal apa?” tanyaku memasang wajah serius.
“Gue udah jadian sama Gaby.” katanya sambil memasang wajah bahagia.

Mendengar perkataan dari  Ray, aku langsung lemas. Aku tak bisa berkata apa-apa. Entah kenapa mendengar perkataan itu, hati ini sesak. Sesak sekali. Seperti tak bisa bernafas. Aku ingin menangis. Akan tetapi, tak mungkin aku menangis. Yang ada Ray bisa curiga. Tidak. Aku tak boleh menangis disini.
“Oh ya. Wah! Selamat ya Ray. Long Last ya. PJ dong, hehe.” kataku sedikit tersenyum.
“Hehe, iya Tik. Makasih ya. Beres deh. Lo mau apa tinggal bilang ke gue.” katanya sambil memasang wajah bahagia (lagi)
“Gue ngga minta apa-apa kok. Gue cuma minta lo jangan pernah lupain gue. Apapun yang terjadi.” kataku menahan tangis.
“Ngga bakal, Tik. Gue ngga bakal lupain lo. Lo itu sahabat terbaik gue. Jadi gue ngga akan dan ngga akan pernah bisa lupain lo.” kata Ray sambil memegang tanganku.

****
Beberapa bulan kemudian,aku mendengar kabar bahwa Ray dan Gaby sedang merenggang hubungannya. Mendengar kabar itu, aku sedih tetapi sedikit senang. Aku sedih, karena hubungan mereka merenggang. Aku sedikit senang, karena setidaknya masih ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku.
Aku yang berada di depanmu. Namun tak kau sadari. Jatuh cinta kepada dirimu. Yang sedang jatuh cinta.
Ketika ingin mengungkapkan perasaan ini, tiba-tiba Ray meminta tolong padaku untuk mempersatukan kembali hubungannya dengan Gaby.
“Please, Tik. Bantuin gue. Lo sahabat gue kan? Masa iya lo tega ngebiarin sahabat lo galau karena cinta.” katanya sambil memegang tanganku.
Sebenarnya aku tak mau. Akan tetapi, Ray memaksaku. Selain itu juga dia adalah sahabatku. Aku tak ingin melihatnya sedih. Dan aku pun mengiyakan permintaannya dengan terpaksa.
“Iya. Gue bakal bantuin lo.” kataku.
“Makasih ya, Tik. Lo emang my best friend.” katanya sambil tersenyum lega.
“Sama-sama.” kataku sedikit tersenyum.
Selalu dirugikan juga menyedihkan. Tapi tak mengapa bagiku. Walau bagaimanapun asal kau bahagia. Aku juga merasa bahagia.



~THE END~

Gimana? Nyesek kah? Atau kurang nyesek?
Ya pokoknya kalo semisal kalian lagi suka sama seseorang dan seseorang itu adalah temen deket kalian. Terus kalian ngga berani ngungkapinnya, ngga usah takut. Ungkapin aja apa yang ada di dalam hati kalian. Kalo buat cewe ngga papa kok ungkapin perasaan ke dia. Inget ya nembak sama ngungkapin perasaan itu beda. 

Kalo nembak itu kek "maksa" banget. Kek berharap banget ~> "Gue suka sama lo. Lo mau ngga jadi pacar gue?" 
Kesannya tuh kalian kek berharap banget jadi pacarnya.

Nah kalo ngungkapin perasaan itu kek gini ~> "Gue udah lama suka sama lo. Gue ngga berharap lo jadi pacar gue. Tapi gue cuma pengen lo ngerti perasaan gue sama lo."
Nah itu namanya ngungkapin perasaan.

Ya tapi sih keputusan ada di tangan kalian, girls. Mau ngungkapin perasaan atau dipendem dalam hati? Itu sih terserah kalian. Ikuti kata hati aja.  Yaudah sekolah dulu lah ya :D


Mungkin ceramah gue cukup sampai disini aja. See You Guys~~